Friday, November 13, 2015

Walk The Folk #3: Menyusuri Tempat Cerita Kaliurang

wtf3-7_in
(dimuat di Majalah Cobra) | Text: Titah Asmaning | Foto: Kurniadi Widodo

*****

Ada banyak cara untuk membaca dan menikmati sebuah situasi. Selasa, 3 November lalu, kami membaca ulang Kaliurang dalam Walk the Folk #3. Sebuah acara sederhana berbasis prinsip kado silang untuk memberikan makna baru pada hal atau ruang yang sudah terlalu biasa dan mudah begitu saja berlalu. Kaliurang tetap menjadi lokasi Walk the Folk seperti edisi sebelumnya, tapi tentu ada yang berbeda dari setiap edisi participatory secret gig ini.

Walk the Folk #1 yang diadakan tahun lalu melakukan okupasi pada ruang-ruang publik yang ditinggalkan. Walk the Folk #2 baru-baru ini mencoba lebih seru dengan mengokupasi ruang privat yang ditinggalkan. Kali ini, demi kembali ke cikal bakal ide Folk Afternoon yang semangatnya seperti ‘gitaran santai di cangkruk’; Walk the Folk #3 memiliki misi untuk menyambangi ruang-ruang berkumpul warga lokal di Kaliurang. Cangkrukan, begitu dalam bahasa jawa disebut, sebenarnya adalah proses dimana komunikasi yang sesungguhnya berlangsung. Ruang informal ini tidak seperti kelas, ruang diskusi atau rapat DPRD yang membahas hal-hal tertentu saja. Sambil ngopi dan santai di cangkruk, cerita remeh temeh tentang anak pak RT yang cantik, maling ayam di desa sebelah, naiknya harga beras sampai isu politik negara biasa dibicarakan dalam perspektif paling jujur dan lugas.

Total ada enam spot yang disinggahi siang itu. Kami memulai jarak tempuh yang panjang itu dari sebuahrooftop sebuah hotel di Kaliurang. Sandi Kalifadani yang menggagas acara ini membuka Walk The Folk #3 dengan saling berkenalan dan berbagi lagu pembuka. Perjalanan berkeliling Kaliurang pun dipimpin oleh Sandi didampingi oleh Anitha Silvia dari Manic Street Walkers.

wtf3-3_in
wtf3-8_in


Turun dari rooftop, kami menyurusi gang-gang kecil dan berhenti di sebuah tikungan dengan cangkrukyang diteduhi kanopi pohon talok yang berbuah lebat. Tempat ini biasa digunakan nongkrong warga lokal di sore hari. Sambil menyeruput kopi single-origin dalam termos pink sederhana yang merupakan kontribusi personal salah satu barista Lir, kami menikmati “Balada Harian” dan “Puan Kelana” dari Silampukau. Beruntung bahwa mereka kebetulan sedang mengadakan tur Jawa Tengah dan bisa ikut dalam Walk The Folk edisi ini. Di sini saya juga sempat membacakan sebuah puisi yang saya temukan di pojok halaman sebuah surat kabar, tulisan anak kelas 4 SD, berjudul “Langit Biru”, seperti langit Kaliurang hari itu.

Berjalan lagi, kami berhenti di bawah pohon beringin di tengah pertigaan dekat Taman Bermain Kaliurang. Matty, seniman asal Australia yang sekarang mendapat giliran tampil. Dengan suara sopran, ia menyanyikan “Halleluya” dengan indah. Irfan ‘Jalan Pulang’ juga menyanyikan sebuah lagu yang begitu personal baginya, diikuti oleh sebuah penampilan dengan emosi yang sangat intens ketika Kharis Junandaru mengkover lagu Tom Waits berjudul “Martha”. Suara motor dan jingle es krim yang sesekali lewat justru malah membangun suasana sendu lagu itu.

wtf3-9_in
wtf3-11_in
wtf3-12_in


Dalam setiap Walk The Folk memang selalu terdapat penemuan spontan. Kami sempat heboh ketika Tinta (panggilan akrab Anitha Silvia) yang memimpin jalan di depan menemukan tugu 0 kilometer Kaliurang. “Bukan aku yang nemuin, kita aja yang baru liat. Setiap berjalan kaki meskipun di rute yang sama, kita pasti akan selalu menemukan hal yang baru,” ujar Tinta sambil tertawa. Tingginya tidak lebih dari 50cm, tidak mencolok, di pinggir jalan yang cukup sepi, berdiri begitu saja. Dari penemuan tugu itu mengalir cerita tentang kota kolonial. Kota-kota yang dibangun Belanda memang selalu punya tugu titik 0 KM. Kaliurang pun begitu, dulu kompleks ini dibangun sebagai tempat peristirahatan para geolog Belanda, sampai sekarangpun arsitektur dan tata ruang di Kaliurang masih sangat dutch-esque. Hari itu saya juga lebih jeli melihat jenis bebungaan yang ditanam warga di depan rumah. Pasalnya, saya baru menonton pameran tunggal Edita Atmadja di LIR Space yang menceritakan tentang bagaimana persebaran jenis bunga di Kaliurang bisa memetakan cara hidup masyarakat yang komunal. Di Walk The Folk #3 Edita Atmadja juga berkolaborasi dengan Yonaz Kristy membuat sablonase kaus dan poster yang dibagikan secara cuma-cuma.

Venue selanjutnya adalah sebuah lapangan voli yang dipojokannya terdapat kepala kereta wisata yang teronggok tertumpuk debu dan daun kering. Namun hal itu justru menambah sisi artistik lokasi tersebut sebagai sebuah ‘panggung’. Sandi, Matty dan Silampukau bergiliran mengokupasi ‘panggung’ itu. Sementara itu, termos kopi terus digilir dan Lala Bohang mulai sibuk melayani permintaan tato temporer yang menjadi bentuk kontribusinya di Walk The Folk #3 kali ini.

wtf3-20_in
wtf3-19_in
wtf3-17_in


Hari makin panas dan kami melanjutkan perjalanan ke sebuah jembatan. Sayup-sayup gemericik air bersaing dengan suara gesekan daun bambu yang ditiup angin. Merespon potensi kesyahduan itu, Irfan menyanyikan “Di Kota Ini Tak Ada Kamu Lagi” dengan gitar dan harmonikanya. Adem. Berikutnya, tampil Bencik Kelincik, duo monolog-instrumentalis bentukan Dito Yuwono dan Anggun Priambodo. Berdua mereka menampilkan suguhan yang mendekati performing art ketimbang pertunjukan musik, dengan salah satu lagu andalan berjudul “Pak Dasri dan Goa Jepang”. Penampilan yang terlalu imut untuk duo yang mengaku punya misi menyebarkan kejahatan di dunia.

Venue pamungkas Walk The Folk #3 adalah sebuah rumah tua berhalaman luas. Jika diperhatikan lebih detil, beberapa kaca jendela rumah itu sudah tidak ada. Pecah, karena memang halaman rumah ini adalah tempat anak-anak biasa bermain bola ketika pulang sekolah. Di sini, Silampukau berduet dengan Irfan menyanyikan “Doa 1”. Senang melihat bahwa dari semua lagu dalam album Dosa, Kota & Kenangan, Silampukau memilih tidak menyanyikan lagu-lagu tentang kota di sini. Curhat eksistensialis a la musisi indie yang dinyanyikan dengan sangat renyah berhasil memanaskan kembali semangat kami untuk menempuh perjalanan lagi kembali ke tempat awal. Walk The Folk kali ini memang menempuh rute yang sangat panjang dan cukup menguras tenaga, apalagi cuaca sedang panas-panasnya.

Beruntung mood kami kembali membaik saat mengetahui ternyata Sandi bersama tim LIR sudah mempersiapkan sebuah pameran artefak Walk The Folk #3. Sebuah jawaban dari Sandi yang menggiliri kami sebuah kamera instan dan kantong plastik selama perjalanan tadi. Dengan display a la Jonathan Safran Foer di Everything is Illuminated, kami melihat gambar-gambar dan benda-benda yang kami pilih sebagai pewujud cerita kami tentang Walk The Folk #3 ini. Dari mulai reruntuhan rumah, buah nangka sampai foto selfie, juga berbagai macam benda-benda kecil dalam plastik.

Tiga perjalanan, tiga tema, 60 partisipan dan entah berapa cerita sudah didapat dari proyek turunan hasil kolaborasi tim Folk Afternoon dan LIR ini. Sandi sendiri sudah merasa cukup, “Belum tahu deh nanti akan ada lagi atau nggak,” jelasnya ketika saya tanyai tentang keberlanjutan acara yang tentu saja cukup potensial untuk dibuat dengan versi lebih besar dan lebih ramai ini. Tapi memang bukan esensi Walk The Folk untuk kemudian dibesarkan lagi, biarkan proyek ini mungkin mengalir sendiri dalam bentuk lain.
Kembali ke kalimat pertama, untuk saya Walk The Folk tidak harus dibaca sebagai sebuah usaha meredefinisi arti sebuah gig, acara musik atau apapun itu. Walk The Folk bisa saja dibaca hanya sebagai acara jalan-jalan biasa, yang karena kontribusi peserta dan segala penemuannya menjadi pengalaman dengan banyak cerita. Tentang bagaimana kemudian cerita itu dimaknai, sudah jadi urusan masing-masing peserta.

wtf3-22_in
wtf3-25_in
wtf3-28_in
wtf3-31_in
wtf3-32_in
wtf3-all-team_in
—–




Folk Afternoon

Thursday, June 11, 2015

Walk The Folk #2: Perayaan Ajaib tentang Hari yang Biasa

lir_1
(dimuat dalam Majalah Cobra) | Teks oleh Titah Asmaning | Foto oleh Cosmas Dipta dan Anom Sugiswoto

*****


Enam bulan lalu, tepatnya November 2014, sebuah proyek bernama Walk The Folk pertama kali diadakan. Proyek ini adalah turunan acara Folk Afternoon yang digagas oleh Sandi Kalifadani dan LIR. Bukan, yang kami lakukan bukan membuat acara musik. Tidak ada musisi, penonton, apalagi panggung. Konsepnya tidak muluk, hanya mengumpulkan 20 orang peserta, jalan kaki di sekitar rumah, saling membagikan sesuatu dan menikmati waktu. A participatory secret gig, istilahnya. Dan hari membahagiakan itu kami ulang Selasa (28/04) lalu di Kaliurang, saat Walk The Folk #2 diadakan.

“We stop whenever we spot magic”, sebuah kalimat yang ditulis Elda Suryani (Stars and Rabbit) sebagai caption di salah satu foto instagram-nya mendeskripsikan dengan baik apa yang kami lakukan. Mengambil tema ‘Halaman Rumah’, rute yang kami tempuh hari itu mengharuskan kami menerobos tanpa ijin alias trespassing ke beberapa halaman bangunan, mulai penginapan tua, rumah yang sudah ditinggalkan, hingga halaman belakang peristirahatan pribadi. Berbagai kejutan kecil berupa bentuk kontribusi maupun kelakuan tidak tertebak para peserta masih menjadi bumbu sedap kesyahduan acara ini.

Tempat pertama yang kami singgahi adalah halaman sebuah penginapan tua. Di bawah sejuknya kanopi sebuah pohon besar, kami duduk menyebar menyaksikan penampilan Sandi memainkan sebuah melodi instrumental sebagai ice breaker. Di pohon itu pula Elda mengejutkan kami dengan tiba-tiba memanjat pohon dan melakukan aksinya sebagai ‘The Tree Hugger’. Aksi peluk pohon ini berakhir dengan duetnya bersama Sandi menyanyikan “Bizzare Love Triangle” milik Frente di atas pohon. What a show!

Aksi memukau lain juga dihadirkan duo Agan Harahap –‘sosialita’ Hollywood asal Indonesia yang ternyata tidak hanya ahli mengedit foto— dan Itta S. Mulia (ex vokalis Cuts). Dengan senjata lagu-lagu klasik manis yang sing-along-able dan aksi duet intim menggoda, mereka mengubah tempat-tempat biasa menjadi panggung milik berdua. Seperti misalnya saat mereka menyanyikan “We’ll Meet Again” milik Vera Lynn di tengah hamparan ilalang. Padang ilalang mini ini kami temukan setelah nekat masuk pintu halaman belakang villa pribadi milik orang. Itta dengan asiknya menari diiringi melodi harmonika dan gitar dari Agan, tenggelam diantara pucuk-pucuk ilalang yang menggelombang tertiup angin sejuk Kaliurang. Sebelumnya, mereka juga tampil di bekas air mancur yang sudah mengering dan berlumut.

Kolam air mancur ini berada di halaman sebuah rumah mewah yang terbengkalai. Sulur-sulur tumbuhan dan lumut, bahkan berbagai tumbuhan kaktus tumbuh liar di seluruh bagian rumah itu. Di rumah ini kami juga menemukan kolam renang yang kemudian jadi tempat tampil selanjutnya untuk Elda. Bersama Vicky, Elda menyanyikan “The Lion’s Roar” dari First Aid Kid; lagu yang sepanjang perjalanan sudah sayup-sayup kami dengar. Sesi di kolam renang kosong sepertinya menjadi ‘menu wajib’ yang juga bisa ditemukan di Walk The Folk #1 lalu.

lir_2
Selain penampilan musik, Walk The Folk #2 untuk saya jadi semakin asik karena kontribusi yang diberikan peserta semakin beragam. Di kolam air mancur tadi, kami sempat duduk penuh perhatian di lantai berlumut mengikuti lokakarya dari PADEkor. Kelompok crafty ini mengajari kami membuat hiasan dari ranting pohon dan buah pinus yang ternyata mereka kumpulkan selama perjalanan. Ada juga We Need More Stage yang tidak hanya datang untuk mendokumentasikan acara ini, tapi juga membawa setandan buah pisang segar yang jadi bekal piknik kami.

Saya sendiri akhirnya memutuskan mencoba menampilkan sesuatu selain mendokumentasikan project ini lewat tulisan. Bersama seorang teman kerja, saya membentuk Gadisubi –single perfomed band khusus untuk Walk The Folk. Bermodal ukulele dan gitar, Gadisubi memainkan “Anyone Else But You”-nya Moldy Peaches, yang akhirnya lebih mirip musik noise-folk karena genjrengan senar kami yang seadanya.
Walk The Folk #2 akhirnya diakhiri dengan duet Itta, Elda, Sandi dan Vicky di rumah yang menjadi titik kumpul. Dan seperti sebelumnya, jika saat berangkat kami belum saling kenal, saat sudah di ujung acara, mulai muncul obrolan-obrolan akrab antara rombongan Walk The Folk.

Apa yang dilakukan Walk The Folk sebenarnya adalah usaha menghadirkan pemaknaan lain dari sebuah acara musik. Walk The Folk mengganti ritual datang-menonton-pulang, atau datang-tampil-pulang dengan meniadakan batas antara penonton dan penampil. Ia meleburkan batas itu sehingga acara musik tidak hanya menjadi kegiatan konsumsi transaksional yang banal, tapi menghadirkan interaksi dan pengalaman utuh yang secara sederhana bisa diumpamakan sebagai ritual ‘kado silang’. Masing-masing memberi dan mendapat sesuatu.

Sebelumnya, Folk Afternoon juga ada dengan semangat yang sama, acara santai yang tidak muluk. Ruang bebas dimana semua yang hadir hanya menjadi ‘sekumpulan orang biasa yang sedang berbagai cerita dan kebahagiaan’. Semangat yang sayangnya semakin memudar seiring dengan bertambah besarnya nama Folk Afternoon sebagai salah satu (so-called) gig-hipster di Yogyakarta. Walk The Folk kemudian merespon itu dengan hanya melibatkan 20 orang dengan bentuk kontribusi yang pasti dan waktu yang dirahasiakan. Karena sebenarnya bukan seberapa besar sebuah acara berlangsung atau seberapa banyak penonton yang datang, tapi tentang bagaimana sebuah acara memberikan pengalaman timbal-balik yang utuh.

wtf-2_6

Folk Afternoon



wtf-2_5
wtf-2_4
wtf-2_3
lir_3
wtf-2_2
lir_4
wtf-2_1

Saturday, December 20, 2014

Walk The Folk: Piknik, Musik, Kisah dan Jalan Kaki

the-walk-1in
(dimuat di majalah cobra) | text: Titah Asmaning | photo: Dito Yuwono

*****


Walk the Folk: a participatory secret gig, begitu acara ini disebut. Project ini merupakan pengembangan dari Folk Afternoon yang digagas oleh Sandi Kalifadani dan Mira Asriningtyas (LIR) pada tahun 2012. Hingga sekarang, Folk Afternoon telah diadakan 8 kali di beberapa lokasi berbeda. Folk Afternoon sendiri merupakan sebuah acara musik sederhana yang meniadakan batas antara panggung dan penonton dengan justru membuka ruang bermusik seluas-luasnya: tidak ada bintang tamu, tidak ada sound, tidak perlu kemampuan bermusik yang hebat, dan tidak ada panggung secara resmi.

Dalam Walk the Folk; peserta undangan berkumpul di sebuah lokasi yang telah ditentukan sebelum kemudian berjalan kaki santai sambil sesekali berhenti di tempat-tempat tertentu untuk bernyanyi dan bercerita. Bahwa masing-masing dari peserta harus berpartisipasi, itu wajib hukumnya. Dan bahwa di acara ini kita bisa mendapat pengetahuan tentang tempat bersejarah, rahasia lokal, kelas dadakan, musisi‘betulan’ yang tiba-tiba datang, sampai renungan spiritual: itu bonus!

Yang menarik, meskipun acara ini telah lama direncanakan, Walk the Folk #1 akhirnya terlaksana justru atas permintaan para penampilnya yang kebetulan sedang berkumpul di Jogja dan ingin bermain musik santai bersama. Acara ini diadakan pada sebuah siang yang cerah namun sejuk di Kaliurang. Kalender menunjukkan hari Rabu tanggal 26 November 2014. Sebuah rumah mungil bernama “Hong” menjadi titik kumpul dan akhir dari perjalanan singkat yang menyenangkan itu.

Sekitar pukul 11, tanda centang di daftar tamu undangan semakin banyak dibubuhkan. Di Walk The Folk #1 ini, undangan disebar secara rahasia kepada 20 orang. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah mobilisasi dan kelancaran acara. Walaupun tidak ada nominal yang disebutkan, acara ini tidak serta merta ‘gratis’ karena masing-masing peserta harus menjanjikan bentuk partisipasinya. Konsep ini sedikit mengingatkan dengan konsep kado silang. Ada yang urun penampilan, urun jasa dokumentasi, sampai tim artistik dari Lir yang dengan bersemangat menyiapkan venue sampai pagi.

Agenda jalan-jalan kami siang itu dimulai setelah seluruh tamu undangan hadir. Dari titik berkumpul, kami berjalan menuju sebuah lapangan tenis. Jaring-jaring pagar yang berkarat dan belukar di gerbang masuk sekaligus menjadi pintu atas keintiman yang luar biasa merasuk hari itu. Sandi Kalifadani mengawali penampilan dengan ‘Song for Rita’, sebuah lagu untuk seorang teman yang disuarakan dalam petikan gitar dan humming sederhana. Ananda Badudu dan Rara Sekar dari Banda Neira lalu melanjutkan penampilan di tengah lapangan tenis tersebut.

Setelahnya, kami berjalan sedikit menanjak ke halaman sebuah reruntuhan rumah yang sudah terbengkalai. Giliran Layur dan Gardika Gigih yang urun tampil di sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang. Kami duduk menyebar di sekelilingnya. Rute jalan kaki kami jadi lebih menantang ketika Sandi menggiring kami menerobos semak dan melewati dalam lubang sempit di pagar sebuah area. “Ini kita masuk ilegal loh.. semoga nggak digerebek ya,” suara salah satu orang di belakang saya. Kau tahu, sedikit ketegangan dan perbuatan melanggar aturan selalu terasa lebih seru dan menantang.

Dan kejutan! Di depan kami ada sebuah kolam renang kosong –di dalamnya hanya ada air hujan dan keluarga kodok yang asik berenang— dengan warna biru yang kontras dengan pepohonan dan rumput hijau disekelilingnya. Kompak kami langsung duduk menyebar di pinggir kolam. Di venue ini, Banda Neira menyanyikan beberapa lagu dan kolaborasi dalam “Suara Awan”. Berpindahnya kami dari kolam itu adalah efek dari munculnya seorang petugas yang ketahuan melongok kami dari jauh. Berjalan santai melewati beberapa vila kosong dan deretan pohon, suara riuh obrolan ringan seperti mengambang di atas gerombolan kami. Menyenangkan.

Venue ketiga adalah favorit saya: sebuah halaman rumah seorang tukang foto keliling. Sungguh halaman impian ketika punya rumah nanti. Pelataran hijau dengan rumput halus, rimbun pohon yang teduh dan kicau burung yang riuh. Tanpa dikomando lagi, piknik yang sebenarnya pun dimulai. Suplai makanan dari divisi logistik diputar menggiliri kami yang duduk-duduk, tiduran atau yang termenung syahdu. Duo tetua Folk Afternoon, Prihatmoko “Moki” dan Sandi Kalifadani, mengambil gitar dan menyuarakan dua lagu dengan melodi post-rock. Membawa kesyahduan siang itu ke level yang lebih tinggi.

Rumah titik kumpul pertama kami menjadi venue pamungkas setelahnya. Setelah dari tadi menjadi penonton, Leilani ‘Frau’ ditemani Nadya Hatta memainkan piano yang berada di ruang tengah. Setelah itu, piano dimainkan oleh geng “Suara Awan”. Garasi yang sudah disulap jadi venue sederhana dengan kasur sebagai pengganti tribun penonton kemudian digunakan. Banda Neira kembali memainkan beberapa lagu mereka sebagai penutup acara siang itu.

Bagi saya, adanya tuntutan untuk melakukan kontribusi nyata bagi Walk The Folk #1 memberikan pengalaman yang membuat saya merasa menjadi bagian utuh dari acara tersebut. Sedangkan jumlah peserta yang hanya berkisar 20-an, membuatnya terasa seperti piknik akhir pekan dengan sahabat tercinta alih-alih terasa seperti acara musik atau gig biasa. Sungguh sebuah hari dengan keintiman yang luar biasa.

Perjalanan ilegal dan perilaku mengambil alih (occupy) ruang publik yang dilakukan memberikan banyak kesadaran bagi saya. Ada masa ketika tempat-tempat yang sekarang terbengkalai itu pernah memiliki sebuah cerita yang hidup. Bahwa pada sudut-sudut yang terpecil yang tidak biasa juga ada keindahan, dan bahkan pada potret ruang yang sudah terlalu biasa kita lihat sehari-hari, ada hal-hal istimewa jika kita menikmatinya dengan sudut pandang baru.

Setelah Walk The Folk #1 resmi ditutup, keintiman yang lain dimulai dalam bentuk obrolan santai, ice cream, dan celetukan-celetukan usil yang sahut-menyahut. Kami baru mulai meninggalkan Kaliurang yang sejuk sekitar pukul 5 untuk kembali ke kota Jogja dengan energi dan memori yang terisi penuh. Beberapa momen tersebut diabadikan dalam foto-foto di instagram dan twitter dengan tagar #WalktheFolk. Rencananya, Walk the Folk berikutnya akan dijalankan berdasarkan tema, baik dari pemilihan partisipan sampai rute yang ditentukan. Namun jangan khawatir, selain Walk the Folk yang sifatnya diam-diam, acara Folk Afternoon tetap akan diadakan seperti biasa dengan publikasi melalui sosial media.

*****

rumah-runtuh-2in
garasi-1in
kolam-renang-3in
kolam-renang-1in
lapangan-tenis-3-in
lapangan-tenis-1in
hong-2in



Folk Afternoon






Wednesday, September 11, 2013

Folk Afternoon on the Rooftop

FA1

(dimuat di Majalah Cobra) |  Text: Dito Yuwono | Photo: Kurniadi Widodo


*****


September tahun lalu, Lir Shop dan seorang guru yoga bernama Sandi Kalifadani menginisiasi acara musik bernama Folk Afternoon. Acara ini sangat sederhana dalam arti yang sebenarnya. Tidak ada bintang tamu, tidak ada sound, tidak perlu kemampuan bermusik yang hebat, dan tidak ada panggung secara resmi. Hanya para penikmat musik yang datang berkumpul, memainkan lagu secara akustik menggunakan gitar, dan menceritakan kisahnya.

Berawal dari keinginan untuk bermain musik dengan santai itulah acara Folk Afternoon ini muncul. Mungkin saja kemunculannya justru memberi bentuk baru dalam acara berbau musik. Undangan dibuat mulut ke mulut dan hanya melalui media sosial online. Tujuannya lebih pada keintiman dan bersenang-senang saja. Mungkin terlihat tak profesional; namun, semua yang datang sangat menikmati keintiman yang justru muncul dari kesederhanaan acara sore hari ini.

Di ulang tahunnya yang pertama minggu lalu, Folk Afternoon #5 yang biasa bertempat di Lir Shop memindah venue-nya ke sebuah rooftop di Kaliurang. Lokasinya sempat dirahasiakan dan peta petunjuk lokasi diunggah hanya beberapa hari sebelum acara dengan petunjuk: “Follow the yellow pompom“. Dengan berlatar bukit-bukit hijau dan hawa segar pegunungan, para pengunjung dan musisi dadakan memenuhi venue untuk meramaikan acara ini.

Selain ‘panggung dadakan’ ini, ada juga booth Lir Shop yang menjual Ginger Ale andalan mereka; silk screen booth oleh Moki Mukamalas, dan juga Pojok Foto Pak Dasri di mana orang-orang bisa menikmati foto instan oleh tukang foto keliling legendaris Kaliurang yang telah memotret sejak tahun 80an. Jarak 25 kilometer dari pusat kota Jogja seolah tidak menghentikan mereka untuk bisa menikmati suasana bukit di sore hari, dan ditemani iringan musik santai. Konon, edisi selanjutnya akan diadakan di sebuah taman tersembunyi di area pegunungan.

FA2
FA3
FA4
FA5
FA6
FA7

Folk Afternoon
https://twitter.com/folkafternoon
https://www.facebook.com/FolkAfternoon